Beritapiral.com – Tulang Bawang, Kasus dugaan kekerasan seksual yang menimpa seorang anak perempuan berinisial MO (17) di Kecamatan Menggala Tengah, Kabupaten Tulang Bawang, hingga kini masih menyisakan keprihatinan mendalam. Keluarga korban terus menunggu kejelasan proses hukum yang diharapkan mampu memberi rasa keadilan serta perlindungan bagi korban. (07/01/26)
Orang tua korban, AT, menyampaikan harapan besar kepada aparat penegak hukum, khususnya Polres Tulang Bawang, agar perkara yang diduga terjadi pada Februari 2025 tersebut dapat ditangani secara profesional, objektif, dan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
AT menjelaskan bahwa laporan resmi telah disampaikan ke Polres Tulang Bawang sejak Oktober 2025. Namun, sudah hampir 100 hari berlalu, pihak keluarga masih menantikan kepastian terkait perkembangan penanganan perkara tersebut.
Di tengah proses yang berjalan, keterbatasan ekonomi keluarga korban menjadi persoalan serius. AT mengakui hidup dalam kondisi serba kekurangan, sehingga tidak memiliki kemampuan untuk memperoleh pendampingan hukum secara mandiri. Oleh karena itu, keluarga berharap ada pengacara atau lawyer yang bersedia memberikan pendampingan hukum secara sukarela, demi memastikan hak-hak korban tetap terpenuhi.
Perhatian publik terhadap kasus ini pun semakin meningkat. Masyarakat menilai penting adanya pengawalan bersama agar proses hukum berjalan transparan dan akuntabel, sekaligus mencegah munculnya prasangka negatif di tengah masyarakat.
Selain itu, publik juga mendorong Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sesuai kewenangan masing-masing untuk turut mengambil peran aktif dengan pendekatan jemput bola, guna memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan psikologis, serta pemenuhan hak-hak korban sebagaimana diamanatkan undang-undang.
Tekanan psikologis masih dirasakan keluarga korban. Dalam pengaduannya kepada tim melalui pesan WhatsApp, AT mengaku hidup di bawah tekanan sejak peristiwa tersebut terjadi, terlebih setelah membawa perkara ini ke ranah hukum. Kondisi tersebut berdampak pada rasa aman dan ketenangan keluarga secara menyeluruh.
Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak di Menggala Tengah, Tulang Bawang, menjadi pengingat bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya aparat penegak hukum, tetapi juga lembaga negara dan masyarakat. Publik kini berharap semua pihak terkait dapat bersinergi agar keadilan dan perlindungan nyata benar-benar dirasakan oleh korban.
(Tim/red l Bersambung)
