Diduga Citra Lingkungan atau Sekadar Seremonial? Partisipasi PT Budi Starch dan Sweetener di Lampung Timur Disorot

Diduga Citra Lingkungan atau Sekadar Seremonial? Partisipasi PT Budi Starch dan Sweetener di Lampung Timur Disorot

Spread the love

Beritapiral.com, Lampung Timur – Keterlibatan PT Budi Starch & Sweetener Tbk bersama Forum Pemuda Pecinta Lingkungan (FPPL) di Lampung Timur kembali menjadi sorotan. Kegiatan yang dikemas dalam agenda kepedulian lingkungan ini dinilai sebagian pihak perlu diawasi agar tidak sekadar menjadi agenda seremonial tanpa dampak nyata bagi masyarakat sekitar. (02/05/26)

 

Sebagai perusahaan besar yang bergerak di sektor pengolahan singkong dan industri turunannya, PT Budi Starch & Sweetener memiliki tanggung jawab besar terhadap lingkungan. Perusahaan ini sendiri mengusung konsep “lingkungan hijau” dalam operasionalnya, termasuk pengolahan limbah dan efisiensi energi sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan.

 

Namun demikian, sejumlah kalangan menilai bahwa kegiatan kolaborasi dengan FPPL harus benar-benar memberikan manfaat konkret, bukan sekadar pencitraan. Apalagi, aktivitas industri skala besar berpotensi menimbulkan dampak lingkungan jika tidak dikelola secara transparan dan akuntabel.

 

“Jangan sampai kegiatan seperti ini hanya menjadi formalitas. Masyarakat butuh bukti nyata, bukan sekadar dokumentasi kegiatan,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

 

Sebelumnya, perusahaan yang berada di bawah naungan Sungai Budi Group ini juga diketahui kerap melakukan kegiatan sosial, seperti pembagian bantuan kepada masyarakat sekitar sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

 

Meski demikian, kritik tetap muncul agar perusahaan lebih terbuka terhadap publik, khususnya terkait dampak operasional terhadap lingkungan sekitar. Transparansi dan keterlibatan masyarakat dinilai menjadi kunci agar program lingkungan tidak hanya berhenti pada simbolik.

 

Kehadiran FPPL dalam kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi jembatan antara perusahaan dan masyarakat, sekaligus memastikan bahwa program yang dijalankan benar-benar menyentuh kebutuhan lingkungan dan warga setempat.

 

Jika tidak, kegiatan yang digadang-gadang sebagai bentuk kepedulian lingkungan ini berpotensi dipandang sebagai upaya membangun citra semata, tanpa memberikan perubahan signifikan di lapangan.

 

Publik kini menunggu, apakah komitmen tersebut benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata atau hanya berhenti pada slogan “peduli lingkungan”.

 

(Tim/red | bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *